Sabtu, 10 Maret 2018

Ketika Saya Hendak Berhenti Mengajar

"Kenapa nggak berhenti ngajar saja?"
Itulah yang sering sekali saya dengar dan membuat hati dan pikiran saya ingin mengabaikan tapi kadang ingin mengikuti ujaran itu.

Hmm.. bagaimana ya? tulisan ini adalah unek-unek saya ketika memutuskan untuk berhenti menjadi guru. Saya pikir lebih baik ditulis di sini dari pada saya tuangkan di status WhatsApp atau wall Facebook.

Sebelum saya menjelaskan alasan saya, ijinkan saya mengawali tulisan ini dengan sedikit cerita yang pernah saya baca.

Ada sebuah Kantor Pos membuka lowongan pekerjaan. Pastilah sangat banyak pelamar pekerjaan yang memasukkan surat lamaran pekerjaannya untuk disetujui, meskipun pegawai yang dibutuhkan hanya untuk satu orang.

Dua minggu berjalan, tibalah saat tes interview untuk calon pegawai yang lolos uji persyaratan. Ruang tunggu di Kantor Pos dipenuhi peserta tes, ditambah cuaca panas di luar ruangan yang membuat suasana semakin gerah dan ramai.

Mereka pun menunggu giliran untuk dipanggil masuk ruangan tes, salah seorang pria baru datang dan berdiri karena tidak ada kursi kosong, ia juga menunggu giliran untuk dipanggil. Tak lama, pria itu langsung masuk ruangan tes melewati peserta yang lain tanpa ragu.

Saat keluar ruangan, pria itu melepas senyum, disusul oleh staff personalia yang keluar ruangan dan berkata, "Bapak dan Ibu sekalian sudah boleh meninggalkan tempat, karena lowongan sudah ditutup karena kami telah mendapatkan pegawai yg kami butuhkan".

Sontak semua pandangan menuju pria itu, ada pula yang protes "Enak saja baru datang sudah langsung diterima, kami yang dari tadi menunggu tidak juga ada panggilan!". "Bapak dan ibu sekalian sebenarnya sudah dipanggil berkali kali, tapi tidak mendengar, kami panggil lewat speaker dengan sandi morse, mungkin karena situasinya ramai, tapi bapak ini mendengar dan langsung masuk ruangan, berarti pendengarannya tajam, kami terima karena akan kami tempatkan pada bagian operator telegraf." tegas staff personalia tersebut

Panggilan, iya panggilan, itulah yang saya rasakan saat menjadi seorang guru, pengajar anak bangsa yang bisa juga disebut salah satu lakon revolusi bangsa. Entah dari mana datangnya panggilan itu, yang jelas saya bersyukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Segalanya, dengan jalan hidup saya yang tergaris menjadi seorag guru. Saya merasa beruntung bisa ada di bagian misi mulia ini, bagaimana tidak? rata-rata setiap hari ada saja yang membuat saya tersenyum, entah karena hal yang melegakan atau sekedar guyonan kecil anak-anak. Kalau boleh saya berbangga diri, saya akan ajukan beberapa pertanyaan kepada semua orang pekerja kantoran.

"Pekerja instansi mana yang bisa tertawa lepas setiap hari di tempat kerja?"
"Pekerja instansi mana yang menunggu waktu dan tak sabar masuk kerja setelah hari libur karena rindu suasana kerja?"
"Pekerja instansi mana yang setiap hari didoakan orang banyak bahkan saat di jalanan?"

Silakan Anda jawab dalam hati karena saya bertanya dari hati.

Saya mendapat gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2014, Alhamdulillah kebetulan yang luar biasa pada tahun 2010 sy lulus SMA dan mulai mengajar siswa SMP, 2011 merambat mengajar siswa SD, dan 2012 merambat mengajar siswa SMK..

2010 sampai 2014 adalah waktu yg tak bisa tergantikan. Saya yang riwa-riwi kejar waktu untuk kuliah, aktif bina bimbel, bina ekskul, sekolah, sekolah dan sekolah membuat saya "nyari" hari libur. Tapi saya sangat menikmati itu, mungkin karena saking menikmatinya hingga tak terpikirkan untuk sekedar ingin pijet. Hehe :)

2015 saya menikah dan mulai mengurangi aktivitas, tinggal 2 tempat untuk menyalurkan bakat dan 1 tempat penyalur hobi. Siapa yang tidak bahagia ketika merasakan hobi yang dibayar? iya, salah satu pekerjaan saya saat itu selain menjadi guru, adalah hobi yang saya tekuni sejak usia belasan tahun. Tapi bagaimanapun hidup adalah pilihan, saya pilih mundur dari pekerjaan hobi itu dengan alasan "saya sudah menjadi istri".

2016, kami dianugrahkan musibah besar (menurut saya) ketika baru merasakan 3 bulan menjadi istri, dan lagi, mengharuskan saya untuk memilih antara mengajar atau keluarga. Singkat cerita, saya pilih jalan tengah yaitu fokus keluarga dan resign dari salah satu instansi, tapi saya meminta kepada suami dan keluarga kami, untuk saya tetap mengajar meskipun hanya untuk siswa SD. Alhamdulillah permintaan saya disetujui. Hingga saat tulisan ini saya buat, saya masih mengajar siswa-siswi di sebuah SD Negeri di tempat saya tinggal.

Pernah terselip sedikit ragu untuk melanjutkan pengabdian ini lantaran tuntutan guru yang kian hari kian meninggi, selain tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa, yaitu tuntutan administrasi yang sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran. Rasa hati saya bukan kasihan pada diri saya sendiri, yang menjadikan saya goyah adalah ...
    "apa jadinya seorang istri yang sedikit waktu untuk suami? dan bagaimana jadinya keluargaku kelak yang kurang perhatian seorang ibu?"

Hmm.... seakan nafas ini panjang sedikit tersendat. Setelah berbulan bulan, "Baiklah saya hendak berhenti jadi guru!" dan suami menyerahkan keputusan pada saya.

Pagi yang cerah, sebelum saya menyelesaikan pekerjaan dan memutuskan untuk pamit resign. Dari gerbang sekolah sebelum turun dari motor, saya disambut ramah siswa-siswi saya, dengan muka ceria dan bersemangat mereka mengucapkan "Assalamualaikum Bu N****" setelah salim tidak biasanya mereka membuntuti saya hingga masuk ruang kerja saya, ya biarlah, namanya juga anak-anak.

"Ada apa Dek? kok ikut Bu N**** sampai sini?" (saya biasa panggil siswa dengan sebutan Adik)
"Foto yuk Bu..."
"Hehe.. kok foto?"
"Iya Bu, biar Bu N**** gak tega kalo kita tinggal pergi, kita mau pamitan..."
"Hah? emangnya mau kemana? mau pindah sekolah? kenapa?" (muka bingung)
"Ayok Bu, foto dulu, selfie aja bu...!"

Cekrek, saya turuti mereka dengan kamera handphone saya.
"Eh, tadi siapa yang mau pamitan?", mereka saling pandang dan saya semakin penasaran. Dengan muka melas, salah satu dari mereka berkata,
"Bu, maaf ya,... "
Saya anggukkan kepala dan mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Maaf ya Bu,..."
saya makin penasaran, lalu serentak mereka bilang "Yeey.. dapat foto Bu N****, hahaha..makasih ya Bu N**** yang cantik, jangan dihapus ya!! kita mau olah raga dulu. Daaahh!" dan mereka lari ke lapangan.

Hehe.. Hal-hal semacam itu yang buat saya tertawa sendiri hampir setiap hari, tingkah lucu mereka yang tak bisa terganti, jahil, gemes, tingkah polosnya membuat saya tidak pernah merasa sakit hati.

Mundur dari keputusan resign dan saya tetap mengajar.

Pernah suatu saat mendapatkan pesan di inbox facebook,
"Bu N****, ingat saya ndak Bu?"
"maaf siapa ya?"
"saya _**** _***** Bu, murid di SMK"
"Emm.. iya, ada apa Dik?"
"Bu, nggak ngajar SMK lagi ta?"
"Loh ??" setelah ketik jawaban cukup panjang, kemudian saya hapus dan menggantinya dengan emoticon smile

Semakin saya memutuskan untuk berhenti mengajar, entah mengapa semakin ada saja hal-hal yang memberatkan hati saya untuk keputusan berhenti.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan "panggilan", ketika tidak merespon maka akan gelisah, merasa bersalah dan ingin kembali lagi, lalu ketika memenuhi panggilan itu, hati menerima dan siap melanjutkan apapun setelahnya dengan lapang dada.

Ahirnya, tidak ada alasan ketika saya hendak berhenti mengajar.

Sebelum mengahiri tulisan ini, sempatkanlah untuk menjawab dalam hati pertanyaan saya yang juga dari hati.

"Pekerja instansi mana yang bisa tertawa lepas setiap hari di tempat kerja?"

"Pekerja instansi mana yang menunggu waktu dan tak sabar masuk kerja setelah hari libur karena rindu suasana kerja?"

"Pekerja instansi mana yang setiap hari didoakan orang banyak bahkan saat di jalanan?"

*) SALAM HORMAT UNTUK GURU

Ketika Saya Hendak Berhenti Mengajar

" Kenapa nggak berhenti ngajar saja? " Itulah yang sering sekali saya dengar dan membuat hati dan pikiran saya ingin mengabaikan ...